|
|
Joannes Zwijsen (1794-1877), son of a miller, was a passionate and idealistic person. At a time when the Catholic faith was suppressed, he opted to be ordained a priest. Being an enterprising man, he became one of the major organizers of the rebuilding of the Dutch Church: he was ordained as bishop in 1842, and in 1853 even appointed archbishop.
|
|
|
Antes que Zwijsen fosse ordenado bispo, ele era um pároco em Tilburg, onde realizava ações não menos notáveis. Nos seus primeiros dias em Tilburg, em 1832, ele ficou horrorizado com a pobreza, o analfabetismo e a negligência espiritual dos jovens nesta cidade industrial em expansão. Ele entendeu como todos esses fatores influenciaram-se mutuamente e começou a preparar uma resposta cristã a isso tudo. Uma das primeiras medidas que ele tomou foi a proibição da Primeira Comunhão às crianças que não tinham frequentado a escola. Do ponto de vista da Igreja, essa pode ter sido uma diretiva bastante questionável, mas certamente teve um grande impacto na sociedade local. O resultado foi que o trabalho infantil diminuiu, enquanto a frequência escolar aumentou.
|
|
|
Sebelum Zwijsen ditahbiskan sebagai uskup, ia bertugas sebagai pastor paroki di Tilburg dimana ia melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak kalah hebatnya. Awal keberadaannya di Tilburg tahun 1832, ia dikejutkan dengan situasi kemiskinan, kebutahurufan, dan tidak adanya perhatian dalam bidang rohani bagi kaum muda bersamaan dengan munculnya industri di kota ini. Ia memahami betapa semua faktor ini saling mempengaruhi dengan mulai mempersiapkan umat guna merespon situasi ini. Salah satu tindakan awal yang dilakukannya adalah tidak mengijinkan Komuni Pertama bagi anak-anak yang belum sekolah. Dari sudut pandang gereja, merupakan instruksi yang masih dipersoalkan, namun jelas telah memberi dampak utama pada masyarakat lokal. Hasilnya adalah bahwa jumlah anak-anak yang dipekerjakan menurun dan yang ke sekolah meningkat.
|